Idenya
Misalkan pemilik kafe dari modul 1 ingin tahu produk mana yang benar-benar layak dijual. Mengetahui harganya saja tidak cukup. Secangkir Kopi Susu dijual 25000, tapi kalau susu, kopi, dan gelasnya menghabiskan 15000, hanya 10000 yang menjadi laba. Dan produk dengan harga tinggi pun bisa jadi tidak menguntungkan kalau sebagian besar harganya habis untuk biaya.
Pertanyaan seperti inilah yang dijawab sebagian besar rumus bisnis, dan yang mengejutkan, matematikanya biasanya sangat sederhana. Laba adalah harga dikurangi biaya. Pendapatan adalah harga dikali jumlah. Margin adalah laba dibagi harga, yang menunjukkan berapa bagian dari setiap penjualan yang benar-benar kamu simpan. Semuanya aritmetika sekolah, diterapkan pada satu baris setiap kalinya.
Jadi modul ini membahas simbol aritmetika yang dipahami Excel, dan satu hal yang lebih sering bikin orang tersandung daripada yang kamu kira: urutan Excel mengerjakan perhitungannya. Begitu kamu nyaman dengan keduanya, kamu bisa membangun hampir semua laporan.
Operator aritmetika
Ini simbol-simbol yang kamu pakai untuk berhitung di dalam rumus. Kebanyakan sama dengan yang ada di kalkulator. Dua yang mungkin baru adalah ^ untuk pangkat dan % untuk persen:
| Operator | Arti | Contoh | Hasil |
|---|---|---|---|
+ | tambah | =10+5 | 15 |
- | kurang | =10-5 | 5 |
* | kali | =10*5 | 50 |
/ | bagi | =10/5 | 2 |
^ | pangkat | =10^2 | 100 |
% | persen (dibagi 100) | =200*10% | 20 |
Sheet untuk modul ini adalah daftar harga kafe tadi, sekarang lengkap dengan biaya membuat setiap produk, berapa yang terjual, dan diskonnya:
| A | B | C | D | E | |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Product | Price | Cost | Qty | Discount |
| 2 | Kopi Susu | 25000 | 15000 | 12 | 10% |
Dalam praktiknya kamu jarang mengetik angka seperti 10+5. Yang kamu lakukan adalah menggabungkan referensi sel, supaya rumusnya bekerja dengan apa pun isi sheet-nya. Ini tiga pertanyaan dari awal tadi, dijawab untuk Kopi Susu:
F1: Profit per unit
F2: =B2-C2
G1: Profit
G2: =F2*D2
H1: Margin
H2: =F2/B2
F1: Profit per unit
F2: 10000
G1: Profit
G2: 120000
H1: Margin
H2: 0.4
Kita baca satu per satu: F2 mengambil harga (25000) lalu mengurangkan biayanya (15000), jadi setiap cangkir menghasilkan laba 10000. G2 mengalikannya dengan 12 cangkir yang terjual, totalnya 120000. H2 membagi laba 10000 dengan harga 25000, hasilnya 0.4. Artinya 40%: empat puluh rupiah dari setiap seratus rupiah yang dibayar pelanggan adalah laba. (Modul 9 menunjukkan cara menampilkannya sebagai 40%.)
Perhatikan bahwa G2 dan H2 memakai F2, yaitu hasil dari rumus lain. Itu hal yang sangat wajar. Membangun perhitungan dalam langkah-langkah kecil, masing-masing di kolomnya sendiri, membuatnya jauh lebih mudah diperiksa daripada satu rumus raksasa.
Tunjuk sel, jangan ketik angkanya. =B2-C2 tetap benar saat harga berubah. =25000-15000 memberi jawaban yang sama hari ini, tapi bulan depan, saat harga kopi naik, rumus itu diam-diam tetap menampilkan angka lama dan tidak ada yang sadar.
Membangun rumus dengan menunjuk
Di Excel sungguhan, kamu jarang mengetik referensi secara manual. Cara tercepat membuat =F2*D2 adalah:
- Klik sel untuk hasilnya lalu ketik
=. - Klik F2. Excel menuliskan
F2untukmu dan menggambar border berwarna di sekelilingnya. - Ketik
*. - Klik D2.
- Tekan Enter.
Menunjuk mencegah salah ketik seperti =F2*D3. Untuk memeriksa rumus yang sudah jadi, pilih selnya lalu tekan F2: setiap referensi menyala dengan warnanya sendiri, dengan kotak berwarna yang sama di sekitar sel yang ditunjuknya. Formulas → Show Formulas (Ctrl + \`) mengubah seluruh sheet agar menampilkan rumus alih-alih hasil, cara cepat untuk meninjau sheet buatan orang lain.
Urutan operasi
Di sinilah rumus mulai salah dengan cara yang sulit disadari. Kamu mungkin mengira Excel membaca rumus dari kiri ke kanan, seperti membaca kalimat. Ternyata tidak. Excel mengikuti aturan yang sama dengan matematika di sekolah, di mana beberapa operasi selalu dikerjakan lebih dulu, di mana pun letaknya dalam rumus:
-sebagai tanda (negatif), seperti-5%persen^pangkat*dan/(kiri ke kanan)+dan-(kiri ke kanan)&menggabungkan teks (modul 8)- perbandingan seperti
=,<,>(modul 6)
Jadi =2+3*4 hasilnya 14, bukan 20, karena perkalian dikerjakan lebih dulu: 3 kali 4 sama dengan 12, lalu ditambah 2.
Kedengarannya seperti detail kecil, tapi lihat apa yang terjadi saat kamu mencoba menghitung total laba Kopi Susu dalam satu rumus:
# Tanpa tanda kurung: biaya 12 cangkir dikurangkan dari harga satu cangkir
I2: =B2-C2*D2
# Dengan tanda kurung: laba per cangkir, dikali 12 cangkir
I3: =(B2-C2)*D2
I2: -155000
I3: 120000
Rumus pertama terlihat wajar sekilas, tapi Excel mengerjakan perkaliannya lebih dulu. Excel menghitung C2*D2, yaitu biaya dua belas cangkir (180000), lalu mengurangkannya dari harga satu cangkir (25000). Hasilnya, -155000, tidak masuk akal, dan yang menakutkan, Excel tidak memberi peringatan apa pun. Rumusnya sah, hanya saja menjawab pertanyaan yang salah.
Rumus kedua meletakkan pengurangannya di dalam tanda kurung, yang menyuruh Excel mengerjakannya lebih dulu. Jadi Excel menghitung laba per cangkir (10000) lalu mengalikannya dengan dua belas cangkir, hasilnya 120000, sama seperti versi dua langkah tadi.
Tanda kurung
Tanda kurung memaksa sebagian rumus dihitung lebih dulu, sebelum apa pun di luarnya. Kamu juga bisa menaruh tanda kurung di dalam tanda kurung lain kalau perlu. Excel memberi warna berbeda untuk setiap pasangan saat kamu mengetik, jadi kamu bisa melihat kurung buka mana yang berpasangan dengan kurung tutup mana.
Diskon adalah tempat klasik di mana kamu membutuhkannya. Kalau sesuatu didiskon 10%, pelanggan membayar sisanya setelah diskon, yaitu 90% dari harganya. Sebagai perhitungan, itu harga dikali 1 - 10%, karena 1 mewakili "harga penuh" dan kamu mengambil 10% darinya:
# Harga Kopi Susu setelah diskon 10%
J2: =B2*(1-E2)
# Harga Teh Tarik setelah diskon 0%
J3: =B3*(1-E3)
J2: 22500
J3: 18000
Kopi Susu menjadi 22500, yaitu 25000 dipotong 2500. Teh Tarik tidak didiskon, jadi 1-E3 hanya 1 dan harganya tetap 18000. Tanpa tanda kurung, =B2*1-E2 akan menghitung 25000*1 lebih dulu lalu mengurangkan 0,1, hasilnya 24999,9, yang jelas bukan diskon 10%.
Rata-rata dua sel adalah =(B2+C2)/2. Kalau kamu menulis =B2+C2/2, hanya C2 yang dibagi dua, lalu B2 ditambahkan ke hasilnya. Saat rumus mencampur + atau - dengan * atau /, biasakan menambahkan tanda kurung walaupun sebenarnya tidak wajib. Tanda kurung membuat maksudmu jelas bagi orang berikutnya yang membaca rumus itu, dan orang itu sering kali kamu sendiri, sebulan kemudian.
Pangkat dan persen
^ memangkatkan angka, artinya mengalikan angka itu dengan dirinya sendiri beberapa kali: 10^2 adalah 10 × 10. Kamu tidak akan memakainya setiap hari, tapi inilah yang kamu butuhkan untuk pertumbuhan yang terus bertumpuk. Kalau harga naik 10% per tahun, setelah satu tahun harganya menjadi harga dikali 1,1. Di tahun kedua harganya naik 10% lagi, tapi kali ini dari harga baru yang sudah lebih tinggi, jadi hasilnya harga dikali 1,1 dikali 1,1, yaitu 1.1^2:
# Harga setelah dua tahun tumbuh 10%
K2: =B2*1.1^2
# 10% dari harga
K3: =B2*10%
K2: 30250
K3: 2500
Setelah dua tahun, Kopi Susu akan berharga 30250, bukan 30000. Kelebihan 250 itu berasal dari kenaikan 10% di tahun kedua yang juga dikenakan pada kenaikan tahun pertama.
% setelah angka hanya membaginya dengan 100, jadi 10% adalah cara yang lebih ramah untuk menulis 0.1. K3 adalah 25000 × 0,1, yaitu 2500.
Saat rumus tidak bisa dihitung
Kadang rumus meminta Excel melakukan hal yang mustahil, seperti membagi dengan nol. Daripada menebak, Excel menampilkan nilai error di selnya. Awalnya memang terlihat menakutkan, tapi masing-masing adalah pesan singkat yang memberi tahu jenis masalah yang ditemui Excel:
| Error | Penyebab | Contoh |
|---|---|---|
#DIV/0! | membagi dengan nol atau dengan sel kosong | =B2/0 |
#VALUE! | menghitung dengan teks | =A2*2 (A2 berisi "Kopi Susu") |
#NAME? | nama fungsi atau nama yang salah ketik | =SUMM(B2:B6) |
# Membagi dengan nol
L2: =B2/0
# Berhitung dengan teks (A2 berisi "Kopi Susu")
L3: =A2*2
L2: #DIV/0!
L3: #VALUE!
Error juga menyebar. Rumus apa pun yang memakai sel berisi =B2/0 akan ikut menampilkan #DIV/0!, begitu juga rumus yang memakai rumus itu, terus sampai ke total akhirmu. Memang menjengkelkan melihat seluruh laporan penuh error gara-gara satu sel, tapi sebenarnya ini membantu: masalah tidak bisa diam-diam bersembunyi di dalam total. Saat kamu melihat error, telusuri rumusnya mundur sampai kamu menemukan sel tempat error itu bermula, lalu perbaiki di sana. Modul 6 menunjukkan IFERROR, untuk kasus di mana kamu tahu error akan muncul dan ingin menampilkan sesuatu yang lebih enak dibaca.
Rangkuman
- Operator:
+ - * /,^untuk pangkat,%untuk persen. - Excel menghitung
^sebelum*dan/, dan keduanya sebelum+dan-. - Tanda kurung mengubah urutan:
=(B2-C2)*D2,=B2*(1-E2),=(B2+C2)/2. - Rujuk sel, jangan ketik nilainya.
#DIV/0!,#VALUE!, dan#NAME?memberi tahu kenapa rumus tidak bisa dihitung.